JAMARAT KETIKA IBRAHIM TIDAK TERLENA PADA DUNIA

Malam yang begitu pekat dengan suhu yang tetap memanas di antara 36 derajat pada pukul 01.00 dini hari ketika kami tiba di maktab Mina. Kami terhenyak ketika sepakat untuk segera melempar jumrah pada hari Nahr, yaitu jumrah aqobah sebanyak tujuh kali lemparan. Kami langsung mendata berapa orang yang berangkat dan berapa orang yang terbadali untuk jumrahnya. Dari 115 jamaah, kami berangkat dengan 85 jamaah sementara sebagian lainnya terbadali.

Bismillah, setelah tenaga sepenuhnya terforsir, kami berdoa agar diberi kemudahan dan kekuatan dalam melaksanakan wajib haji ini. Meskipun pihak maktab tidak mengizinkan kami berangkat, tekad kami sudah bulat. Akhirnya, ketua kloter, Bapak Kiai Muhrodji, menandatangani MOU bertanggung jawab sepenuhnya kepada jamaah.

Lantunan talbiyah menggema di perjalanan kami, meskipun kami sadar akan beratnya perjalanan ini. Google Maps di ponsel saya menunjukkan jarak 3.8 km sekali jalan ke jamarat, yang berarti kami harus menempuh 7.6 km berjalan kaki. Kami mengikuti petunjuk arah, tetapi askar Saudi memutar kami sehingga jarak yang ditempuh menjadi lebih panjang. Waktu terus berjalan, kami masuk dan keluar terowongan berulang kali. Kesabaran kami diuji, dan dalam benak kami, ujian Ayahanda Ibrahim jauh lebih berat karena diperintahkan untuk menyembelih anaknya.

Dengan tekad yang kuat, setelah sekitar satu jam lebih, kami sampai di Jamarat. Terpampang jelas Jamarat pertama (Ula), kemudian 100 meter berikutnya Jamarat kedua (Wustha), dan berikutnya Jamarat ketiga (Aqobah). Kewajiban kami pada tanggal 10 Dzulhijjah ini adalah melempar satu jumrah saja, yaitu jumrah aqobah. Bismillahi Allahu Akbar, satu per satu kerikil kami lemparkan, termasuk badal jumrah yang kami lakukan. Seperti Ayahanda Ibrahim A.S yang melempar setan karena membujuknya, begitu kukuhnya ketauhidan Ibrahim dan tulusnya hati anaknya, Ismail A.S, yang tidak tergoda sedikitpun dengan bujuk rayu setan.

Setelah selesai melempar jumrah aqobah, kami berkumpul di satu tempat untuk berdoa dan bertahalul awal. Di situ, semua larangan berikhram gugur kecuali satu, yaitu hubungan suami istri. Kami kemudian berjalan pulang menuju tenda di Mina. Terlihat rasa lelah yang tak terhingga di wajah beberapa jamaah. Walaupun demikian, masih tersirat tekad yang begitu teguh dan menyala. Beberapa jamaah tercecer waktu pulang, tetapi alhamdulillah, berkat kerja sama yang baik, semua jamaah tidak ada yang tersesat sampai tenda Mina. Terima kasih kepada ketua kloter, KH Muhrodji, pihak Prof Muhtadi, TKHK Dr. Affa, Mas Rio, dan Bu Indah. Terakhir, terima kasih kepada Allah atas kemudahan yang diberikan.


Kilauan Cahaya Keimanan

Di tengah gelapnya malam dan panas yang menyengat, kami menemukan kilauan cahaya keimanan di setiap langkah kami. Setiap langkah adalah wujud pengorbanan dan kesungguhan, mengingatkan kami akan kisah agung Nabi Ibrahim dan Ismail. Dalam keletihan, kami merasakan kekuatan spiritual yang seolah-olah mengangkat beban fisik yang berat. Tak henti-hentinya kami bertalbiyah, menyeru nama-Nya dengan penuh harap dan cinta.

Kesabaran dalam Ujian

Kesabaran kami diuji dalam setiap langkah panjang menuju Jamarat. Seperti Ibrahim yang dengan penuh keimanan menghadapi perintah Allah untuk mengorbankan anaknya, kami pun menguatkan hati, merasakan setiap tantangan sebagai bagian dari ujian iman kami. Setiap lemparan kerikil yang kami lakukan bukan hanya simbol penolakan terhadap setan, tetapi juga pengukuhan tekad kami untuk selalu berada di jalan yang lurus.

Kebersamaan dalam Perjuangan

Kebersamaan dalam perjuangan ini adalah pelajaran berharga. Kami saling mendukung, menguatkan, dan menjaga satu sama lain. Setiap doa yang dipanjatkan, setiap langkah yang diambil, menjadi saksi bisu dari kebersamaan yang tulus dan ikhlas. Dalam keletihan, kami menemukan kekuatan dari kebersamaan ini. Di bawah langit Mina, kami merasakan kasih sayang Allah yang begitu besar melalui keberadaan satu sama lain.

Doa dan Harapan

Setelah menyelesaikan lemparan jumrah, kami berkumpul untuk berdoa, memohon kepada Allah agar menerima setiap ibadah yang kami lakukan. Dalam doa-doa tersebut, terselip harapan-harapan tulus, permohonan ampunan, dan keinginan untuk selalu berada di jalan-Nya. Kami berharap setiap langkah yang kami ambil di tanah suci ini membawa berkah dan mendekatkan kami kepada-Nya.

Penutup

Perjalanan ini bukan hanya tentang menyelesaikan wajib haji, tetapi juga tentang menemukan kembali esensi keimanan dan pengabdian kepada Allah. Setiap momen yang kami lalui di Mina dan Jamarat adalah pelajaran hidup yang berharga. Semoga Allah menerima ibadah kami, mengampuni segala kekhilafan, dan memberikan kekuatan untuk selalu istiqamah dalam iman dan taqwa. Amin.

Jamarat Nahr, 10 Dzulhijjah 1445 H

H. Mahrizal Luthfi Bahari

You may also like...

Leave a Reply