INDONESIA USUNG HAJI RAMAH LANSIA,SAUDIA?

Pagi ini, sekitar pukul 02.00 WAS, kami tiba di tenda Mina setelah melakukan perjalanan dari Arafah dan Muzdalifah. Sejenak kami melepas penat dan menghirup udara Mina, kami segera bersiap untuk melaksanakan lempar jumrah pertama pada tanggal 10 Dzulhijah atau hari Nahr, yaitu Jumratul Aqobah dengan tujuh kali lemparan. Hiruk pikuk di tenda Mina mulai terasa seiring kedatangan beberapa kloter yang tergabung dalam Maktab 49 di Mina. Kami mendata jamaah yang berangkat dan yang diwakilkan untuk jumrah sesuai arahan Ketua Kloter KH Muhrodji, PIHK Kh Muhtadi, dan petugas TKHK, Mas Rio. Untuk jamaah lansia, mereka diwakilkan untuk lempar jumrah.

Kami bersiap berangkat, tetapi oleh pihak maktab kami tidak diizinkan. Setelah bernegosiasi, akhirnya kami diperbolehkan berangkat. Dengan bertalbiyah, 85 personil kami berangkat menuju Jamarat. Namun, awal perjalanan kami sudah dibingungkan oleh rute yang dibuat oleh pemerintah Arab Saudi. Kami harus memutar dan kembali lagi ke depan gang yang sudah kami lewati. Kami tetap tersenyum untuk mengurangi ketegangan di jalur lintas Jamarat. Akhirnya, kami masuk ke terminal Muaishim. Pada peta, tertera bahwa Jamarat berjarak 3,8 km. Bismillah, kami terus berjalan di tengah kepadatan jamaah haji yang juga akan melempar Jumrah.

Setelah 1,5 jam berjalan, tibalah kami di Jumrah Aqobah. Setelah melaksanakan lempar jumrah, kami kembali ke tenda Mina. Perjuangan belum berhenti di situ. Toilet yang terbatas dan tenda Mina yang sangat sesak membuat kami, kawula muda saja, merasa sangat tidak nyaman. Dengan kondisi toilet seadanya, kami sering menahan buang air kecil atau besar agar tidak kembali ke toilet yang bagi kami tidak kondusif, apalagi untuk lansia dan yang berisiko tinggi. Saat kami berbincang di depan tenda, banyak sekali jamaah yang kebingungan bahkan tersesat dalam mencari tendanya di Mina. Karena ada kartu jamaah, kami berusaha menghubungi ketua kloternya.

Dua hari di Mina, tibalah kami di jumrah Tasyrik yang sudah kami rencanakan untuk satu kali jalan dua kali lempar. Dengan sisa-sisa tenaga, kami bersama-sama menuju Jamarat untuk melempar tiga jumrah dengan memperkirakan waktu yang tepat. Alhamdulillah, tidak ada halangan dan kami bisa kembali ke tenda Mina. Namun, masalah terjadi karena para lansia kehabisan tenaga, akhirnya mereka diusung ke Makkatul Mukarromah dengan trip pertama.

Sesampai di hotel, kami beristirahat dan sepakat jam 23.00 berangkat ke Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf ifadah. Sesampainya di Masjidil Haram, kami tidak menemui kendala untuk melaksanakan thawaf. Namun, ketika menuju Mas’a atau tempat sa’i, kami kebingungan karena semua akses sa’i tertutup. Ketika kami tanyakan kepada petugas di sana, kami diarahkan keluar masjid dan masuk masjid lagi. Kami sangat sadar bahwa jamaah kami ada yang lansia, dan ternyata benar ketika kami bisa masuk ke Mas’a dan melaksanakan sa’i, satu putaran saja kami sudah tercerai-berai karena jamaah kehabisan tenaga.

Demikian ulasan yang bisa kami berikan. Semoga ke depannya dapat menjadi koreksi yang lebih baik dalam penanganan haji.

Masjidil Haram, 13 Dzulhijjah 1445 H

H. Mahrizal Luthfi Bahari

You may also like...

Leave a Reply