Menghidupkan Semangat di Balik Layar Ujian: Kisah Dedikasi di Balik Tupoksi

Pagi ini, suasana dimulai dengan gemuruh hujan yang turun sejak subuh. Hujan deras membasahi bumi, membawa udara segar dan dingin yang menyapa pagi. Meski demikian, rutinitas pagi saya tetap berjalan seperti biasanya. Saya bangun lebih awal, menjalankan kewajiban yang sudah menjadi bagian dari hidup. Setelah semuanya selesai, tepat pukul 05.00 pagi, saya mulai bersiap untuk berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya.
Hari ini adalah hari keenam pelaksanaan Ujian Sumatif Akhir Semester di sekolah. Sebagai seorang guru sekaligus Koordinator Proktor, saya memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap langkah dalam proses ujian berjalan lancar. Tugas ini bukan hanya sekadar peran administratif atau teknis; ini adalah tanggung jawab moral yang melekat pada saya.
Sebagai Koordinator Proktor, tugas pokok saya adalah mengoordinasikan jalannya ujian agar sesuai prosedur, memastikan perangkat siap digunakan, dan memantau pelaksanaan secara keseluruhan. Namun, dari awal saya menyadari bahwa sebuah ujian bukan hanya tentang menjalankan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) semata. Ada hal-hal kecil yang sering terlewat, tetapi jika dikerjakan dengan hati, justru menjadi kunci kelancaran pelaksanaan.
Setiap pagi, tanpa diminta, saya menyalakan Akses Point di 39 ruang ujian. Dan setiap sore, setelah seluruh rangkaian ujian selesai, saya kembali mematikannya satu per satu. Ini bukan perintah dari atasan atau instruksi dari manapun. Ini adalah panggilan hati. Dengan jaringan yang tersedia, perangkat yang ada, serta pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, saya merasa bertanggung jawab untuk memastikan semua berfungsi sebagaimana mestinya.
Tentu saja, semua ini tidak dilakukan tanpa pengorbanan. Setiap hari, saya harus dua kali mengelilingi 39 ruang ujian, naik turun lantai gedung.. pagi untuk menyalakan dan sore untuk mematikan Akses Point. Kaki saya sering terasa capek dan pegal setelahnya, tetapi saya anggap itu bagian dari perjuangan. Bahkan, minyak kapak kini menjadi teman setia bagi kaki saya. Hehe..
Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan ini terlihat sederhana, bahkan remeh. Tetapi saya percaya, hal kecil seperti ini memiliki dampak besar pada kelancaran ujian. Dengan jaringan yang stabil dan perangkat yang berfungsi baik, para siswa dapat mengikuti ujian tanpa kendala teknis. Tidak ada waktu yang terbuang sia-sia, dan semua berjalan sesuai jadwal.
Di hari keenam ini, saya terus melanjutkan rutinitas tersebut. Ada rasa syukur yang mendalam ketika melihat segala sesuatunya berjalan lancar. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah kepanitiaan tidak seharusnya hanya terpaku pada Tupoksi. Kita harus berpikir lebih jauh, lebih kreatif, dan lebih ikhlas. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu? Apa yang bisa kita tambah untuk memastikan semuanya berjalan lebih baik?
Jangan pernah terpaku pada penghargaan atau pengakuan. Lakukanlah dengan niat yang tulus, karena sejatinya, kebaikan tidak pernah sia-sia. Saya percaya, kebaikan sekecil apa pun akan dicatat dan dihargai oleh Allah SWT. Balasan atas kebaikan itu tidak harus datang dalam bentuk penghormatan langsung. Rezeki dan rahmat akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga, pada waktu yang tepat, dan dengan cara yang tak terbayangkan.
Kisah kecil ini mengajarkan saya, dan semoga juga menginspirasi orang lain, bahwa kita semua memiliki kemampuan untuk membuat perbedaan. Tidak perlu menunggu perintah atau instruksi resmi. Tindakan kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dapat membawa dampak besar bagi banyak orang.
Mari terus berbuat baik, di mana pun kita berada, apa pun peran kita, dan sekecil apa pun hal yang bisa kita lakukan. Karena dari tindakan kecil yang sederhana, sebuah perubahan besar dapat terwujud, dan kehidupan menjadi lebih indah
Ayo Bergerak, Tergerak dan Menggerakkan
Ayo Belajar, Berbagi, Memotivasi, dan Menginspirasi.
Salam dan Bahagia.
Imam Irfai, ST, M.Pd, Gr
